Usaha jual beli erat kaitannya dengan utang piutang. Ada pembeli yangngutang dulu, padahal duit ada. Ada yang belum bayar tapi ngaku sudah bayar. Ada yang punya duit tapi menunda bayar, dan ada juga yang pura-pura lupa
sebelum ke penjelasan saya tertarik dengan cerita antara si ibu warung dan pembeli yang notabene adalah PNS.
Suatu hari, warung itu kedatangan pembeli, seorang ibu berpakaian PNS, turun dari mobil dan terlihat ia orang kaya raya.
Kasir : Totalnya tujuh puluh ribu sekian sekian...
Pembeli : Kemarin saya nyimpen uang di sini, ya, jadi dipotong bayarnya...
Kasir : Oh, nyimpen di sini, Bu? Kapan, ya?
Pembeli : Hari 'itu' kalo gak salah, jam 'segitu', waktu saya belanja 'ini itu', lho...
Kasir : Kasirnya saya, Bu?
Pembeli : Bukan, mbak yang satunya lagi...
(Kasir manggil mbak yang dimaksud)
Kasir : Mbak, katanya ibu ini nyimpen uang sama kamu, ya, kemarin?
Mbak'e : (keliatan bingung) Ke saya? berapa, Bu?
Pembeli : Empat ratus
Mbak'e : (makin bingung) Ha... banyak banget... gak, ah, Bu... Saya gak ngerasa...
Pembeli : Mangkanya dicatat, dong, Mbak, buat apa saya boong?
Mbak'e : Tapi bener, Bu, saya gak ngerasa Ibu nyimpen uang ke saya!
Pembeli 2 : (ikut nimbrung) Berapa, Bu, nyimpennya?
Pembeli : Empat ratus!
Pembeli 2 : Empat ratus ribu?
Pembeli : Ya, ngga... empat ratus perak...!
Kasir, Mbak'e, Pembeli 2: Oooooo...
Mbak'e: Saya kira empat ratus ribu, Bu....
Akhirnya dipotonglah harga belanjaan itu sebesar Rp 400, 00
Alkisah, dia yang menceritakan ini, alias pembeli 2, tak habis pikir bagaimana ibu itu mempermasalahkan uang 400 perak. Maklum, penampilannya kaya raya.
Jadi semua yang ada di sana menyangka si Ibu berpiutang 400 ribu, sepadan dengan penampilannya.
Bagi beberapa orang, empat ratus perak memang tidak ada artinya. Lebih baik ikhlaskan saja, apalagi jika ia orang berada. Tapi bisa jadi ia merasa empat ratus perak sangat berharga, yang kalaudikumpulin bisa jadi empat puluh ribu. Lumayan kan bisa beli kerupuk seblek ?? (blek : kaleng tempat kerupuk yang ada kacanya)
Akan tetapi, masalahnya bukan besar atau kecilnya utang. Masalahnya adalah kalau utang, ya, harus dibayar.
Bagaimana Islam menyikapi utang piutang ini?
Seorang lelaki pernah bertanya kepada Rasulullah Shalallahu'alaihi wassalam :
"Wahai Rasulullah, apakah engkau melihat bahwa apabila aku gugur di medan pertempuran dalam membela agama Allah maka dosa-dosaku akan diampuni semuanya oleh Allah Subhanahuwata'ala?"
Maka Rasulullah Shalallahu'alaihi wassalam bersabda, "Ya, jika engkau terbunuh di medan pertempuran dalam membela agama Allah, dan engkau teguh dalam menghadapinya dan tidak melarikan diri."
Kemudian Rasulullah Shalallahu'alaihi wassalam bersabda, "Apa yang engkau katakan tadi?"
Lelaki itu kemudian mengulangi pertanyaannya, dan Rasulullah Shalallahu'alaihi wassalam yang mulia mengulangi jawabannya sambil menambahkan, "Kecuali utang, karena sesungguhnya Jibril alaihissalam berkata kepadaku tentang itu."(H.R. Muslim)
Kemudian ada hadits yang menguatkan bahwa mati syahid pun tidak bisa menggugurkan dosa berutang.
"Semua dosa orang yang mati syahid akan diampuni kecuali utangnya."(H.R. Muslim)
Eits, jangan berhenti baca dulu pemirsa. Ada penekanan yang lebih penting lagi dari Rasulullah tentang berutang:
"Maha Suci Allah, mengapa perkara utang piutang itu begitu keras ditetapkan? Demi yang diriku berada di tangan-Nya, kalau ada orang yang terbunuh dalam suatu peperangan di jalan Allah, kemudian dia dihidupkan, kemudian dia terbunuh lagi, kemudian dia dihidupkan lagi, lalu terbunuh lagi, tetapi dia mempunyai tanggungan utang, maka dia tidak akan masuk surga sampai dia membayar utangnya." (H.R. Ahmad, Nasa'i, dan Hakim)
Parahnya lagi, jika seseorang mengambil haknya sebelum waktunya dan tanpa izin, itu pun akan menjerumuskannya ke dalam neraka.
Hal ini terjadi pada seorang lelaki yang mengambil harta rampasan perang sebelum dibagikan. Memang nilainya sangat kecil dan dari harta rampasan perang itu memang ada jatah untuknya. Hanya karena ia mengambilnya diam-diam, ia tidak memperoleh kehormatan sebagai seorang syuhada ketika terbunuh di medan perang, termasuk pahalanya.
Kejadian ini menimpa seorang lelaki bernama Karkarah. Ia terbunuh di medan perang, namun Rasulullah Shalallahu'alaihi wassalam bersabda : "Dia akan masuk neraka."
Para sahabat kemudian pergi melihat orang itu, ternyata mereka menemukan baju panjang (dari harta rampasan) yang telah dia ambil. (H.R. Bukhari)
Dan banyak lagi hadits-hadits lainnya. Silakan kalau mau menambahkan :)
Bahkan, keutamaan membayar utang lebih tinggi daripada naik haji. Maksudnya, jika ia punya utang, maka uang yang hendak digunakan untuk ibadah haji diutamakan untuk membayar utang terlebih dahulu.
Islam tidak menganggap remeh masalah utang, meskipun jumlahnya sangat kecil. Jadi, jangan tersinggung kalau ada orang menagih utang. Karena ia menyelamatkan kita dari api neraka hanya karena tidak bayar utang.
Ada pernyataan bagus dari narasumber : "Seseorang tidak boleh mengambil hak orang lain dengan cara yang tidak halal, dan memakan makanan dengan cara yang tidak benar, walaupun nilainya sangat rendah, karena sesungguhnya yang paling penting adalah prinsip yang mendasari perbuatan kita itu. Barangsiapa yang memberanikan diri untuk mengambil barang yang sedikit, maka tidak diragukan lagi bahwa dia juga mau mengambil yang lebih besar. Sesungguhnya sesuatu yang kecil akan membawa kepada sesuatu yang besar. Api yang besar itu kebanyakan berasal dari api yang kecil."
Jadi, si bukankah benar yang dilakukan Ibu PNS? menagihutang ke warung buat dilunasin.
Ayo, segera lunasi utang-utang kita. Sayang kalau surga ditukar dengan rupiah yang gak ada nilainya di akhirat. Inilah tips ringan dari saya
1. Bila merasa punya utang, segera lunasi.
2. Kalau berutang atau berpiutang, catat, sekecil apapun nominalnya.
3. Kalau ada rezeki, segera lunasi, karena kematian bisa datang kapan saja.
4. Jangan lupa ingatkan teman-teman untuk menagih kalau kita berhutang.
Jazakumullah khair.
Wallahu'alam bishshawab,
Alhamdulillahirabbil'alamiin,
sumber :




0 komentar:
Poskan Komentar